Insomnia Berkepanjangan Tingkatkan Depresi
BIASA terjaga hingga fajar hampir merekah? Anda mungkin mengidap insomnia. Berhati-hatilah, kebiasaan tersebut bila berlarut-larut berpotensi mengekalkan depresi di masa tua.
Utamanya pada pasien lanjut usia (lansia) yang menerima perawatan standar (standard care) di klinik layanan kesehatan umum, potensi tersebut semakin besar. Hal tersebut berdasarkan studi terbaru yang dilaporkan jurnal Sleep, belum lama ini.
“Hal ini mempertegas kaitan antara kejadian insomnia dan depresi,” kata pimpinan penulisan studi, Dr Wilfred R Pigeon dari the University of Rochester Medical Center di New York.
“Kami belum tahu pasien insomnia mana yang akan mengalami gangguan saat depresi mulai meningkat,” ungkanya. Jadi, menurut dia, pendekatan paling konservatif adalah segera menanganinya ketika gangguan ini mulai tampak.
Sejak lama diketahui bahwa insomnia merupakan salah satu gejala depresi. Dan bukti terakhir menunjukkan bahwa insomnia merupakan faktor risiko dari serangan depresi dan kekambuhannya.
Adapun mengenai keterkaitan insomnia dengan sejumlah kelainan atau gangguan lainnya hingga kini juga masih dipertanyakan. Untuk menggali lebih dalam isu tersebut, peneliti menguji data dari Project IMPACT, sebuah studi yang melibatkan 18 klinik layanan kesehatan umum. Kemudian, peneliti membagi dua kelompok pasien, yakni kelompok pasien yang menerima layanan standar (usual/standard care) dan kelompok pasien dengan sistem penanganan yang lebih lengkap (enhanced care).
Partisipan terdiri atas 1.801 pasien berusia 60 atau lebih, yang didiagnosis depresi berat maupun ringan. Pada kelompok usual-care, biasanya pasien ditangani dokter umum dan para dokter bebas menangani pasien sesuai pilihannya.
“Sedangkan pada enhanced care, selain ditangani dokter, pasien juga menerima perawatan tambahan (stepped care) dari manajer perawat yang bertugas memberi penyuluhan tentang depresi dan terapi yang berfokus pada masalah,” urai Pigeon.
Berdasarkan kemajuan yang dialami pasien, perawat dapat mengusulkan perubahan jenis dan pola pengobatan pada sang dokter. “Atau merekomendasikan pengalihan penanganan ke psikiater jika tak kunjung ada kemajuan,” katanya.
Dengan menggunakan kriteria diagnosis standar, sebanyak 293 subjek penelitian dinyatakan tidak punya insomnia, 207 didiagnosis insomnia menetap, dan 1.301 pada tahap insomnia menengah (intermediate). Juga, terdapat kasus depresi pada 6 bulan terakhir yang dialami 44 persen pasien insomnia menetap, 29 persen insomnia menengah, dan 16 persen partisipan yang tanpa insomnia.
Dalam sebuah analisis subgrup yang membandingkan pasien tanpa insomnia dengan pasien insomnia menetap, disinyalir bahwa kasus insomnia berkepanjangan terkait dengan risiko peningkatan depresi yang signifikan selama 6 dan 12 bulan. Apalagi pada pasien dengan depresi berat dan mereka yang menerima layanan standar (usual care).
Namun, Pigeon dan koleganya menegaskan bahwa temuan ini tidak bermaksud “mengukuhkan” bahwa insomnia yang disertai depresi merupakan sebuah gejala atau kelainan tersendiri. Mereka juga mengemukakan kemungkinan lainnya bahwa pada beberapa kasus, insomnia bisa jadi hanya sebuah gejala.
“Atau, bisa juga menjadi sebuah kelainan yang memerlukan perawatan yang terfokus,” imbuhnya.


